Sunyata: The Poetics of Emptiness

Rp 285.500

SBN: 978-602-6202 20 8
softcover with jacket
17×23 cm
214 halaman
Bahasa Indonesia – Inggris (bilingual)
Written by : David Hutama & Setiadi Sopandi

Paviliun Indonesia merupakan salah satu dari 10 paviliun terbaik di Venice Architecture Biennale 2018.  Paviliun Indonesia menampilkan karya instalasi oleh kurator utama Ary Indra bersama lima kurator lain yaitu, David Hutama, Adwitya Dimas, Ardy Hartono Kurniawan, Jonathan Aditya Gahari , Johanes Adika Gahari.

Teme Freespace dalam Biennale 2018 diterjemahkan oleh kurator Indonesia menjadi Sunyata (kekosongan) dengan membentangkan kertas sepanjang 21 meter di area paviliun. Pengunjung dapat berjalan dan mengamati di tengah kertas atau mengamati kertas yang menjuntai ditengahnya yang ditarik di kedua sisi.

Sunyata berangkat dari berbagai referensi yang dapat kita temukan dalam berbagai praktik pembangunan dari arsitektur tradisional ke kontemporer di Indonesia,  Sunyata mencoba untuk menetapkan titik belok dalam membuka sebuah wacana baru tentang pendekatan desain dalam arsitektur Indonesia.

Selain menyajikan cara kuratorial pameran arsitektur internasional, buku ini menampilkan teori dasar pemikiran arsitektur tradisional Indonesia yang mempengaruhi cara berpikir arsitektur kontemporer masa kini dengan teori pendukung contoh foto foto proyek terbangun

Bermanfaat dan perlu diketahui oleh mahasiswa, akademisi, profesional arsitek serta mereka yang terlibat dalam kuratorial pameran internasional.

The Indonesian Pavilion is one of the 10 best pavilions at the Venice Architecture Biennale 2018. The Pavilion curated by Ary Indra along with five other curators, David Hutama, Adwitya Dimas, Ardy Hartono Kurniawan, Jonathan Aditya Gahari, Johanes Adika Gahari.

The Freespace theme in the 2018 Biennale was translated by the Indonesian curator to Sunyata (emptiness) by stretching 21 meters of paper in the pavilion area. Visitors can walk and observe in the middle of the paper or observe the paper hanging on both sides.

Sunyata departs from various references that we can find in various development practices from traditional architecture to contemporary in Indonesia, Sunyata tries to set a turning point in opening a new discourse about the design approach in Indonesian architecture.

In addition to presenting curatorial ways to exhibit international architecture, this book presents the basic theory of thinking of traditional Indonesian architecture that influences the way of thinking contemporary contemporary architecture with supporting theories, examples of photos of projects built.

A must read book for students, academics, professional architects and those involved in international curatorial exhibitions.

1 review for Sunyata: The Poetics of Emptiness

  1. Hafizh Faishal Wahyu

    ……..”Secara keseluruhan, untuk mendapatkan pemahaman utuh mengenai riset tim kurator Paviliun Indonesia 2018, buku ini harus dibaca secara runut dan teliti. Namun kelelahan membaca ini dapat dinetralkan melalui fitur interaktif untuk merasakan secara virtual Fragmen Kekosongan yang ada pada bangunan tradisional maupun kontemporer di Indonesia. . . . .”

    dalam reviewnya di https://medium.com/@hafizh_wahyu/interior-tanpa-rupa-f4ca9cb004a7

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *